wb_sunny

Breaking News

Tinggalkan Kebiasaan Lama dan Adaptasi Kebiasaan Baru

Tinggalkan Kebiasaan Lama dan Adaptasi Kebiasaan Baru


Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Iwan Syahril mengatakan perubahan dalam dunia pendidikan perlu dilakukan. Pasalnya, setiap zaman pasti akan mengalami perubahan.

Saat ini perubahan berjalan begitu cepat, seiring dengan percepatan perkembangan teknologi dan informasi. “Pendidikan di seluruh dunia termasuk Indonesia sejak tahun 2000 atau pada abad ke-21 mulai banyak diskusi soal “new normal”. Ini artinya perubahan diperlukan dalam dunia pendidikan bahwa ke depan dunia akan berbeda dan akselerasi perkembangan teknologi komunikasi dan informasi sangatlah cepat,” ujar Dirjen GTK Iwan Syahril pada Webinar yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah (LPPKSPS).

Webinar yang bertemakan Kesiapan dan Adaptasi Kepemimpinan dan Manajemen Sekolah Menyongsong “New Normal” ini diikuti oleh 150 orang kepala sekolah, 75 orang pengawas sekolah, 25 orang widyaiswara, dan 25 orang dari dinas pendidikan yang mengikutinya melalui aplikasi Zoom  serta para penonton yang melihat melalui  live streaming di akun YouTube LPPKSPS TV.

Menurut Iwan dengan adanya pandemi Covid-19 ini memberikan hikmah dan pembelajaran tersendiri, yakni mempercepat dorongan kita semua untuk melakukan perubahan, yakni dengan melakukan sesuatu yang baru dalam dunia pendidikan.

“Jadi sebenarnya dorongan untuk new normal sudah lama sekali, saat pendidikan masih terjebak dengan kenormalan yang sudah kadaluarsa. Kita sudah masuk revolusi industri 4.0, tapi dalam dunia pendidikan masih terjebak pada 2.0,” ujarnya.

Maka itu, menurut Iwan perubahan dalam dunia pendidikan perlu segara dilakukan untuk mengejar ketertinggalan. Jika tidak segara melakukan perubahan maka kehadiran sekolah akan dipertanyakan, apakah benar-benar mampu mempersiapkan generasi yang mampu menjawab tantangan zaman.

Lebih lanjut Iwan mengatakan transformasi bekerja dalam bidang pendidikan harus dilakukan, yakni tidak lagi pada fokus bagaimana program terlaksana dan anggaran terserap, namun benar-benar terkirim dan sampai kepada pihak yang dituju (murid). “Seperti anologi WhatsApp (WA), tidak hanya pesan dikirim tapi harus sampai terhadap penggunanya atau kepada orang yang  dituju. Artinya program tersebut harus membawa dampak yang kita harapkan dan kualitas yang kita inginkan,” jelasnya.

Iwan mengatakan pendidikan saat ini harus diterjemahkan pada kualitas belajar siswa. Maka pendidikan saat ini harus berorientasi dan fokus kepada kebutuhan murid/siswa.  “Kualitas dalam pendidikan adalah fokus kepada murid. Ini menjadi hal yang sangat penting di seluruh pemangku kepentingan pendidikan mulai dari guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, kepala dinas, orang tua, tokoh masyarakat, tokoh adat dan sebagainya harus melihat murid adalah hal yang utama dalam program -program atau implementasi kebijakan yang kita lakukan,” jelasnya.

Budaya Inovasi

Menurut Iwan untuk menyambut kenormalan baru kita harus melakukan perubahan dalam bekerja. Yakni  tidak cukup bekerja keras dan dan produktif,  namun harus melakukan inovasi-inovasi baru. 

Bahkan Presiden Jokowi meminta inovasi harus menjadi budaya. Jika ini telah menjadi budaya maka kita tidak pernah puas dengan apa yang telah kita raih.  “Presiden  minta inovasi harus menjadi budaya. Budaya itu artinya menjadi kebiasaan. Dengan melakukan Inovasi membuat kita tidak nyaman, sehingga selalu mencoba hal-hal baru, ide baru, model baru dan kebiasaan lama selalu ditantang dengan melakukan modifikasi,’ujarnya.

Maka itu, dia meminta untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama dengan melakukan inovasi baru. Hal ini sangat penting dilakukan untuk mengejar ketertinggalan kita dengan negara-negara lain.  “Inilah yang kita butuhkan sebab kita tidak bisa begini-begini saja, Ide-ide lama yang sudah membawa kemajuan, tapi kemajuan yang terlambat. Yang kita butuhkan adalah kemajuan yang mampu mengejar negara lain-lain yang sudah di depan kita,” ujarnya.

Melihat kondisi saat ini, Indonesia harus berlari lebih cepat. Jika kecepatan masih kalah dengan negara-negara lain, maka kita akan semakin tertinggal. Untuk mengejar ketertinggalan tersebut adalah terus melakukan inovasi-inovasi baru.   “Bayangkan negara yang sudah di depan kita terus berlari semakin cepat.  Artinya jika kita tidak lebih cepat dibanding dengan kecepatan mereka maka kita akan semakin tertinggal.  Tidak ada cara lain adalah dengan melakukan inovasi. Ini merupakan kebutuhan yang harus kita lakukan,” demikian Iwan.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar